BAGI INTIPERS / penghobi fotografi silahkan gabung disini.. untuk bisa upload/ sharing foto disini dan berbagi coment
© 2010 admin

Malang tempoe Doloe :Stasiun

Menikmati sudut-sudut Kota Malang tak ada habisnya. Apalagi bila dijelajahi satu persatu. Setelah kita klinong-klinong, mengenal sejarah Alun-alun Boender alias Alun-alun Coenplein pekan lalu, kita berjalan ke arah timur. Ya, menuju Stasiun Kereta Api Kota Baru Malang.

Secara fisik, memang tak ada yang banyak berubah dari stasiun kota ini. Tapi, tahukah Anda bahwa stasiun di Malang pernah berganti kiblat ?

Stasiun kereta api pertama kali didirikan di Malang tahun 1879. Letaknya di kawasan Mergosono, Kecamatan Sukun. Beberapa sumber menyebut, bangunan ini masuk daftar 10 stasiun tertua di Indonesia.

“Stasiun Kotalama dibuat agar pengiriman barang lebih cepat karena pada masa itu tempat tersebut menjadi kawasan industri,” tutur Dwi Cahyono, pemerhati budaya dan sejarah Malang.

Lantas bagaimana dengan Stasiun Kotabaru? F Roynita Olivia dalam tulisannya tentang Malang Tempo Doeloe mengatakan, setelah menjadi gemeente, pemerintah Malang hendak mengembangkan Malang ke segala penjuru. Namun, pengembangan ini terhambat tangsi militer di sebelah timur.

Dalam konteks inilah, didirikan bangunan baru menghadap ke barat, berbeda dengan stasiun kota lama yang menghadap ke timur. Ide ini terwujud 1930.

Perancangan gedung dipercayakan pada Landsgebouwendienst alias Jawatan Gedung Negara, sedangkan perancangan teknis menjadi tanggung jawab Jawatan Kereta Api. Bangunannya bergaya international style, yakni minim ornamen.

“Perpindahan ini masih terkait dengan perancangan tata kota yang dilakukan Karsten. Filosofinya, siapa pun yang datang ke Malang harus melihat gunung. Jadi begitu keluar stasiun, mereka melihat keindahan Kota Malang,” kata Dwi.

“Jadi, saat itu, (sebelum ada Jalan Kahuripan), pemerintah memang mensyaratkan dalam mengurus IMB, warga tidak tidak boleh membangun di atas dua lantai agar tidak menutupi wajah gunung itu,” katanya.

Handinoto, dalam tulisannya tentang Perletakan Stasiun Kereta Api dalam Tata Ruang Kota-kota di Jawa pada Masa Kolonial menyatakan, perletakan stasiun Kota Malang sangat strategis dari segi tata ruang kota. Stasiun ini berorientasi kepada Alun-alun Boender.

“Jadi kalau kita berjalan dari Alun-alun Boennder ke arah Timur, maka bangunan stasiun ini kelihatan sebagai suatu focal point,” sebutnya.

Cerdas Menata Kota

Apa yang dilakukan Karsten sebagai perancang tata kota memang sesuatu yang cerdas. Kita tentu dapat dengan mudah membayangkan, betapa nyaman, dan rindang kota ini pada masa itu.

Karsten menyadari bahwa perancangan bangunan harus peduli dengan lingkungan sekitarnya agar bisa selaras dengan denyut nadi kehidupan manusia. Konsistensi inilah yang masa itu membuat Malang benar-benar menjadi kota idaman.

Lalu, mampukah pemerintah sekarang menata kembali kota dengan konsistensi seperti semangat di atas? Waktu akan membuktikan.

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>