Sebuah pertanyaan diajukan kepada seorang ustadz yang mengasuh pengajian tarawih. Si penanya terus-terang mengaku bahwa dia belum aktif menjalankan shalat, tetapi setiap tahun tidak pernah absen berpuasa. Apakah puasanya itu bisa diterima?
Sebenarnya soal diterima atau ditolak itu urusan Allah. Akan tetapi Allah telah memberikan rambu-rambu yang cukup jelas, baik melalui firman-Nya maupun hadits Rasulullah. Soal persyaratan lahiriah telah banyak diungkap ahli fiqh, sementara para ahli tasawuf juga telah sering mengupas masalah-masalah yang sifatnya lebih hakiki.
Menurut pandangan ahli fiqih, asal syarat dan rukunnya puasa dipenuhi, terhindar dari segala yang membatalkannya, maka puasa itu sah dan diterima. Adapun persoalan niat, motivasi, dan segala yang berkaitan dengan hati itu sangat sukar dideteksi. Untuk itu –masih menurut ahli fiqih– batasan diterima atau tidaknya puasa hanya bisa dilihat secara lahiriah saja. Yang batiniyah sepenuhnya masuk wilayah Ilahiyah.
Jalan pikiran semacam ini bisa dipahami, sebab fiqh itu berkaitan dengan hukum, yang ukurannya harus jelas dan bisa dideteksi. Yang namanya puasa yaitu menahan diri dari makan dan minum mulai dari terbitnya fajar hingga tenggelamnya matahari, titik. Orang yang melakukannya dinyatakan telah berpuasa, yang berarti telah menjalankan rukun Islam yang ke-empat. Konsekuensi hukumnya, mereka harus diterima sebagai anggota komunitas masyarakat muslim yang punya hak-hak setara dengan muslim yang lain. Tidak dihalalkan atasnya darah dan hartanya.
Muslim adalah individu-individu yang telah menjalankan rukun Islam dengan baik. Definisi ini tidak perlu ditambahi catatan apa-apa. Tidak perlu disoal, apakah dia menjalankan rukun Islam dengan iman atau sekadar ikut-ikutan, ikhlas atau riya’, sungguh-sungguh atau sekadarnya.
Pada tataran ini, yang menjadi soal adalah, apakah ia menjalankan rukun Islam atau tidak. Jika jawabannya “ya”, maka secara otomatis ia adalah muslim. Tidak atau belum perlu dibahas masalah kualitas. Yang penting, siapa yang mengerjakannya, maka ia tercatat sebagai muslim. Dengan definisi seperti ini, maka jumlah umat Islam Indonesia tercatat mencapai hampir 90 persen, atau 160 jutaan orang.
Bagaimana soal pahala puasanya mereka ini? Allah tidak mengurangi sedikitpun pahala dari sebuah amalan yang dilakukan oleh kaum muslimin. Selama mereka menjalankan kebajikan, Allah akan mencatatnya dan menjadikannya sebagai investasi yang dapat dipetik di kemudian hari. Allah berfirman:
“Orang-orang Arab Badui itu berkata, ‘Kami telah beriman.’ Katakanlah (kepada mereka), ‘Kamu belum beriman, tetapi katakanlah, ‘kami telah tunduk,’ karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu. Dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tiada akan mengurangi sedikitpun (pahala) amalanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat: 14)
Jika kita amati –mudah-mudahan pengamatan ini salah– ternyata sebagian besar ummat Islam menjalankan puasa baru pada tahapan ini. Mereka menjalankan puasa sekadar untuk menghindari dosa dan mencari pahala. Mereka tak hirau soal kualitasnya. Juga tak memperhitungkan soal dampak sosialnya. Bagi mereka, yang penting adalah puasa.
Lebih tragis lagi, puasa –sebagaimana juga shalat– sudah dijadikan sebagai tujuan akhir, bukan sarana untuk mencapai target yang lebih mulia. Akhirnya mereka hanya berfikir, pokoknya shalat atau pokoknya puasa.
Dalam sebuah anekdot dikisahkan, ada seorang pencuri yang tertangkap basah. Oleh masyarakat ia diarak ramai-ramai keliling kampung, setelah itu diserahkan kepada pihak yang berwajib. Di kantor polisi ia diinterogasi. Salah satu pertanyaan yang diajukan polisi adalah soal agama. Dengan tegas si pencuri menjawab ia beragama Islam. Polisi juga bertanya apakah ia menjalankan shalat. Lagi-lagi ia menjawab, “Ya”. Kok, mencuri? Dengan tenang pak maling menimpali, “Shalat itu kewajiban saya, sedangkan mencuri itu pekerjaan saya.”
Bagi orang yang seperti digambarkan di atas, antara shalat yang rutin ditunaikan dengan kejahatan yang dijalani tidak ada hubungan apa-apa. Shalat ya shalat, kerja ya kerja, mencuri ya mencuri, korupsi ya korupsi. Shalat itu merupakan satu hal, sedang mencuri itu adalah hal yang lain.
Kenapa ini bisa terjadi? Kerena shalat dan ibadah-ibadah yang lain sudah dijadikan sebagai tujuan akhir. Sehingga begitu selesai mengerjakannya, ia menganggap telah tuntas segalanya. Persis seperti orang yang hendak buang hajat, begitu keluar, maka pekerjaan itu dianggap telah selesai. Besok akan diulangi lagi.
Alangkah banyak orang yang shalat terburu-buru karena waktu yang sudah mepet. Dengan cara super kilat mereka selesaikan shalatnya. Begitu salam ada perasaan lega, seperti orang yang habis memikul sekarung pasir di pundaknya. Begitu karung turun, terasa ringan bebannya.
Bisa jadi orang seperti ini, melakukan shalat hanya karena tradisi. Mereka misalnya sejak kecil dibiasakan melaksanakan shalat atau puasa tanpa disertai pengertian dan kesadaran. Mereka kerjakan shalat atau puasa karena sejak kecil memang telah dibiasakan untuk melakukannya sebagaimana orang-orang di sekitarnya.
Karena sudah biasa, mereka merasa ada yang kurang jika suatu waktu meninggalkannya. Bahkan tidak sedikit yang kemudian memiliki perasaan tersiksa. Itulah sebabnya jika mereka telah mampu menunaikannya, akan merasa lega. Ada perasaan puas, bangga, dan bahagia.
Kebiasaan baik seperti ini memang harus tertanam sejak kecil, hanya saja ibadah itu tidak cukup dengan kebiasaan semata. Ibadah juga harus didukung pengertian dan pemahaman, lebih lanjut adalah iman. Tanpa kesadaran seperti ini, ibadah akan terasa kering.
Meskipun demikian, orang-orang yang beribadah seperti ini masih lebih baik dibanding dengan mereka yang tidak mengerjakannya sama sekali. Itulah sebabnya Allah masih tetap memberi nilai pahala. Bagi mereka tetap disediakan imbalan, minimal tidak tersiksa dengan beban-beban yang harus mereka tunaikan.
Masalahnya sekarang, apakah pantas manusia puas hanya dengan imbalan itu saja, padahal masih banyak hal yang semestinya bisa diperoleh? Dengan ibadah diharapkan hubungan dengan Allah semakin dekat dan akrab. Dengan keakraban seperti ini banyak masalah yang bisa disampaikan. Berbagai persoalan hidup bisa ditumpahkan kepada Allah yang Maha Kasih dan Sayang.
Sekadar bisa menyampaikan uneg-uneg saja sudah bisa melegakan perasaan dan meredakan emosi, apalagi jika kemudian ditanggapi, didengar, dan dikabulkan. Sungguh ini merupakan kebahagiaan, puncak kenikmatan. Bukankah Allah memang sangat dekat dengan hamba-Nya?
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (QS. Qaaf: 16)
Allah tidak sekadar dekat, tapi mendengar setiap jerit tangis hamba-Nya, apalagi terhadap mereka yang mengharap dan meminta pertolongan-Nya. Harapan dan do’a hamba-Nya yang disampaikan dengan tulus ikhlas akan Dia sambut dengan hangat dan dikabulkan segala permintaannya.
Allah berfirman, “Dan apabila hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwa Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang-orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah: 186)
Ini baru satu aspek yang bisa diperoleh dari ibadah yang dijalani. Jika lebih bersungguh-sungguh lagi, tentu kita akan mendapatkan yang lebih banyak lagi. Tidak saja kenikmatan yang sifatnya untuk pribadi, lebih lanjut lagi untuk keluarga, masyarakat dan negara, bahkan dunia dan seluruh jagad raya ini.
Janji yang begitu besar itu baru mungkin didapatkan setelah menusia mau meningkatkan kualitas ibadahnya. Tetapi jika rangkaian ibadah itu masih saja dilakukan secara rutin tanpa kesadaran, tidak lebih dari sekadar tradisi, maka hasilnya tidak akan memuaskan. Dari shalat ke shalat tidak terjadi perubahan berarti. Dari Ramadhan ke Ramadhan juga tiada peningkatan. Semua berjalan rutin dan seperti sudah tak bermuatan makna yang penting lagi.
Padahal semua tentunya berharap agar Ramadhan tahun ini tidak berlalu hanya dengan begitu saja. Kita ingin memanfaatkan kesempatan emas ini untuk mendekatkan diri kepada Allah sedekat-dekatnya. Kita perbanyak ibadah, mulai dari shalat sunnah utamanya shalat malam, membaca al-Qur’an, berdzikir, berdo’a, dan bersedekah.
Ibadah-ibadah di atas akan mempunyai nilai tambah jika dilakukan dengan penuh kesadaran dan penghayatan, iman dan keyakinan, rencana dan jangkauan ke depan. Itulah yang disitir Nabi dalam sebuah haditsnya:
“Barangsiapa yang berpuasa dengan iman dan perhitungan, maka akan diampuni segala dosa masa lalunya.”
^SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA…SEMOGA AMAL IBADAH KITA DITERIMA OLEH ALLAH SWT….^